Minggu, 23 Agustus 2009

SOAL : assalamu alaikum.. ana mau tanyakan tentang hadist "kegembiraan seseorang menanti bulan ramadhan adalah surga" apa shahih sukran jazakumullahu khairan (Abdul Mun’im)

JAWAB : Wa’alaikum salam warahmatullah, teks hadits yang antum sebutkan belum kami dapatkan dalam buku-buku hadits mu’tabar namun ada sebuah hadits yang semakna dan cukup populer di sebagian masyarakat kita yang berbunyi :




مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ
Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari neraka”
Takhrij : Hadits ini disebutkan oleh Al Khubawi (penulis kitab Durratun Nashihin) dalam kitabnya tanpa menyebutkan sanad dan sumbernya.
Perlu kami ingatkan bahwa sebagian buku-buku yang menjadi pegangan masyarakat kita banyak memuat hadits-hadits lemah dan palsu; diantara kitab-kitab tersebut adalah Ihya’ Ulumiddin yang mana hadits-haditsnya telah ditakhrij olrh Imam Al ‘Iraqi, kitab Irsyad Al ‘Ibad oleh Zainuddin Al Malaibari, kitab Tanbihul Ghafilin oleh Abu Layts As Samarqandi dan kitab Durratun Nashihin oleh Al Khubawi. Kitab yang terakhir ini telah diteliti oleh Ustadz DR. Ahmad Lutfi Fathulloh, MA pada disertasi doktor beliau dalam bidang hadits di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Dalam disertasi tersebut beliau menyimpulkan bahwa kitab Durratun Nashihin sangat banyak memuat hadits-hadits lemah, palsu bahkan yang tidak memiliki asal sama sekali.
Untuk hadits di atas beliau menghukuminya sebagai hadits maudhu’/palsu. Beliau menjelaskan, “Melihat lafaz dan kandungan hadits ini, ia mempunyai ciri-ciri hadits palsu, yaitu satu amalan kecil yang menjanjikan pahala yang begitu besar. Alasan kedua adalah hadits ini tidak dijumpai dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar, termasuk dalam kitab-kitab yang mengandung hadits-hadits dha’if, maka hadits ini dapat digolongkan sebagaimana yang dikenali dalam istilah ilmu hadits dengan la yu’raf lahu ashlun atau la ashla lahu (tidak diketahui sumber asalnya), ini akan menyebabkan hadits itu dihukumi palsu. Oleh karena itu, hadits ini adalah palsu karena sebab di atas.” (lihat buku : Hadits-hadits Lemah dan Palsu dalam Kitab Durratun Nashihin oleh DR. Ahmad Lutfi Fathullah, halaman 75)
Kesimpulan : Hadits yang antum tanyakan tidak didapatkan dalam buku-buku hadits yang mu’tabar oleh karena itu tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam hingga kita mendapatkan sanadnya yang diriwayatkan dengan derajat shohih atau hasan. Namun demikian tidak berarti seorang muslim tidak dianjurkan bergembira dengan kedatangan bulan suci Ramadhan, bahkan sudah sepatutnya Ramadhan yang merupakan keutamaan dan rahmat yang Allah datangkan kepada kita disambut dengan kesyukuran dan penuh suka cita yang dibuktikan dengan memperbanyak amal sholeh di dalamnya. Allah Azza wa Jalla berfirman (artinya), Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (QS. Yunus ayat 58), Wallohu a’lam bish shawab wahuwa waliyyut taufiq.


0 komentar:

Poskan Komentar